KULTUR SEKOLAH

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

    Saya Defia Wahyufi dari kelas PAI 4A dengan no Nim 11901169. Sesuai dengan judul saya akan menjelaskan tentang Kultur Sekolah. Penjelasan ini berdasarkan yang sudah saya baca, jika ada yang kurang atau salah dalam penyampain mohon untuk kritik dan saran yang baik, terimakasih.

    Pertama-tama kita harus mengetahui apa itu kultur. Apabila menengok dalam Kamus Merriam Webster maka kultur diartikan sebagai himpunan sikap, nilai, tujuan, dan praktik bersama yang mencirikan suatu lembaga atau organisasi. Atau bisa juga kita diartikan sebagai nilai-nilai dasar budaya kerja bagi suatu organisasi. Kata budaya sendiri berasal dari bahasa sansekerta yaitu budhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi dengan arti budi atau akal. Sedangkan dalam bahasa Inggris budaya dikenal dengan kata culture yang berasal dari bahasa latin yaitu colore yang berarti mengolah atau mengerjakan. Berikut merupakan pengertian budaya menurut para ahli, Seorang antropologi Inggris bernama E.B Taylor mendefinisikan budaya sebagai sesuatu kompleks yang mencakup pengetahuan kepercyaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lainnya yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Louise Damen menulis dalam bukunya Culture Learning: The Fifth Dimension in the Language Classroom, bahwa budaya mempelajari berbagi pola atau model manusia untuk hidup seperti pola hidup sehari-hari. Pola dan model ini meliputi semua aspek interaksi sosial manusia. Budaya adalah mekanisme adaptasi utama umat manusia. 

    Masuk pula pada pembahasan inti yaitu apa yang dimaksud dengan kultur sekolah. Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ( UUSPN) bab II pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan yang menyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkannya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. ”

    Salah satu faktor yang mendukung penyelanggaraan proses pendidikan adalah kultur yang dibangun dengan baik. Budaya sekolah yang baik diharapkan akan berhasil meningkatkan mutu pendidikan yang tidak hanya memiliki nilai akademik namun bernilai afektif. Bulach, Malone dan Castleman (1994) telah melakukan penelitian yang dilakukan di 20 sekolah menunjukkan bahwa perbedaan kultur sekolah menunjukkan perbedaan yang berarti yang ditunjukkan dengan perbedaan prestasi akademik siswa yang berasal dari sekolah yang berkultur baik dibandingkan dengan prestasi siswa dari sekolah yang berkultur kurang baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa kultur sekolah sangat berperan penting.

    Budaya sekolah adalah pola nilai, keyakinan dan tradisi yang terbentuk melalui sejarah sekolah (Deal dan Peterson, 1990). Stolp dan Smith (1994) menyatakan bahwa budaya sekolah adalah pola makna yang dipancarkan secara historis yang mencakup norma, nilai, keyakinan, seremonial, ritual, tradisi dan mitos dalam derajat yang bervariasi oleh warga sekolah. Kultur sekolah adalah budaya sekolah yang menggambarkan pemikiran-pemikiran bersama ( gagasan bersama ), asumsi-asumsi ( asumsi ), nilai-nilai ( values ), dan keyakinan ( keyakinan ) yang dapat memberikan identitas) sekolah yang menjadi perilaku standar yang diharapkan. (Zamroni, 2009).  Kultur positif sekolah seharusnya menjadi kekuatan utama dalam mengarahkan seluruh warga sekolah menuju perubahan-perubahan positif.  

     Kultur sekolah memegang peran penting dalam peningkatan mutu karena memiliki fungsi empat, yaitu:

1. Sebagai alat untuk membangun identitas.

2. Kultur sekolah akan mendorong warga sekolah untuk memiliki komitmen yang tinggi.

3. Kultur sekolah akan mendorong terbentuknya stabilitas dan dinamika sosial yang berkualitas. Hal ini penting agar lingkungan sekolah menjadi kondusif yang tidak terganggu oleh konflik yang akan menghambat peningkatan mutu pendidikan.

4. Budaya sekolah akan membangun keberlangsungan lingkungan yang positif bagi warga sekolah.

          Kultur sekolah mencerminkan budaya dan perilaku dan moral sekolah sebagai sebuah lembaga. Ada tiga komponen yang dapat menggambarkan gambar tersebut (Zamroni, 2009): 

  1. Artifak dan Simbol-simbol, bagaimana bangunan sekolah dihias, didekorasi dan dirawat,
  2. Nilai-nilai ( values) , bagaimana warga sekolah berperilaku dan bertindak saat melakukan pekerjaan, sebuah komunikasi dan komunikasi.
  3. Asumsi-asumsi, keyakinan termasuk agama yang tidak secara disadari dan alami dimiliki oleh setiap warga sekolah. 
    Budaya sekolah tidak hanya dapat direfleksikan oleh bangunan fisik semata namun juga oleh aspek psikologis yang dapat mengkondisikannya sebagai tempat belajar siswa dan mengajar guru. Dalam membangun kultur sekolah yang baik, sehat dan positif perlu didasari oleh pengakuan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan Yang Maha Esa sehingga segala apa yang dilakukan selalu diniatkan untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianutnya. 

    Peningkatan mutu yang ingin dicapai melalui pengembangan kultur sekolah dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu melalui proses pembiasaan dan meningkatkan pembiasaan tersebut menjadi sebuah sistem.
1. Pembiasaan
          Pada pembiasaan semua tingkal laku yang bernilai kemuliaan tersebut masih berupa tindakan yang memerlukan arahan, kontrol dan penyadaran dari orang lain.
2. Mengubah Pembiasaan Menjadi Sistem. Untuk bisa melestarikan pembiasaan dan mengubahnya menjadi sistem.

Contoh Kultur Positif di sekolah :

1. Warga sekolah memiliki keyakinan hanya mereka yang belajar keras dan sungguh-sungguh yang akan memperoleh prestasi tinggi
2. Memegang teguh bahwa prestasi dan proses mencapainya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan
3. Menjunjung tinggi nilai-nilai religius, norma sosial, etika dan moral
4. Membangun jembatan antara visi, misi, dan aksi
5. Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki kinerja dan etos kerja yang baik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di sekolah
6. Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki spirit corp dan team workyang tinggi
7. Komitmen seluruh warga sekolah (Kepala Sekolah, Pendidik dan Tenaga kependidikan) untuk selalu belajar (belajar sepanjang hayat)
8. Menghargai prestasi siswa
9. Memiliki simbol-simbol yang menekankan penghargaan dan sangsi, sehingga mendorong pencapaian prestasi dan menghambat pelanggaran dan tidak memiliki prestasi
10. Lingkungan sekolah yang bersih, rapi, sejuk, dan aman
 

Contoh Kultur Negatif di sekolah :

1. Siswa memiliki keyakinan belajar asal-asalan apa adanya pasti naik kelas dan lulus.
2. Siswa ingin meraih prestasi yang setinggi-tingginya dengan segala cara untuk mencapainya, sekalipun melanggar norma dan nilai (misalnya : Nyontek, bekerja sama dalam ulangan, plagiat dalam membuat tugas, dsb.).
3. Siswa tidak antusias menerima tugas karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih banyak.
4. Siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR karena mereka yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan naik kelas dan lulus mendapatkan ijazah. Ijazah dianggap sebagai sesuatu yang penting, tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai.
5. Siswa malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik, tidak antusias dalam mengajar, dan tidak menguasai materi.
6. Hasil karya siswa dan prestasi sekolah tidak dipajang sebagaimana mestinnya yaitu sebagai suatu kebanggaan yang dapat memberikan motivasi untuk yang lainnya.
7. Guru sering melecehkan siswa dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. Oleh karena itu, sebagai balasannyasiswa tidak menghargai guru.
8. Sekolah tidak disiplin dalam melaksanakan proses belajar mengajar dan menyalahkan siswa atas prestasinya.
9. Kebijakan kepala sekolah bersifat pilih kasih.
10. Menghindari kolaborasi dan selalu ada pertentangan.
11. Mereka yang innovatif malah di kritik dan tidak disenangi.
12. Diktator, komentator, Agitator, Spektator.
13. Diantara warga sekolah tidak ada saling percaya dan selalu mencari kesalahan orang lain.
14. Banyak siswa dan guru yang terlambat datang ke sekolah.
15. Lingkungan sekolah yang kotor, membuang sampah tidak pada tempatnya.

Komentar