Karakteristik peserta didik
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh
Saya Defia Wahyufi dari kelas PAI 4A dengan no NIM 11901169
Sebelum masuk ke pembahasan inti mari kita lihat pembahasan dadar terlebih dahulu, seperti biasa, penjelasan ini berupa penjelasan yang saya baca jika ada kesalahan kata atau kalimat atau kurang dan lain-lain mohon masukannya.
Apa itu karakteristik? Karakteristik adalahnilai-nilai yang khas, baik watak, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Darikarakter yang ada pada diri manusia, terdapat nilai-nilai karakter berdasarkan budaya dan bangsa seperti religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Manusia memiliki beberapa unsur yang berkaitan dengan terbentuknya karakter. Unsur inilah yang nantinya akan menunjukan bagaimana karakter seseorang. Unsur-unsur karakter adalah :
1. Sikap
Sikap dari seseorang merupakan bagian dari karakter. Bahkan sikap dianggap sebagai cerminan karakter orang tersebut. Sikap dari seseorang menunjukkan bagaimana karakter orang tersebut di suatu lingkungan. Jadi, kalau orang tersebut memiliki karakter yang baik, maka lingkungannya akan mengatakan orang tersebut memiliki karakter yang baik. Begitupun sebaliknya.
2. Emosi
Emosi yaitu gejala dinamis dalam situasi yang dirasakan manusia yang disertai dengan efek pada kesadaran, perilaku, dan ini juga merupakan proses fisiologis. Emosi ini identik dengan perasaan yang kuat.
3. Kepercayaan
Kepercayaan sendiri merupakan komponen kognitif manusia dari faktor sosio psikologis. Kepercayaan mengenai sesuatu itu benar atau salah atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman dan intuisi sangat penting dalam membangun watak dan karakter manusia. Jadi, kepercayaan memperkukuh eksistensi diri dan hubungan dengan orang lain.
4. Kebiasaan dan Kemauan
Kebiasaan merupakan aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis pada waktu yang lama, tidak direncanakan dan diulangi berulang kali. Sedangkan kemauan adalah kondisi yang mencerminkan karakter seseorang karena kemauan berkaitan erat dengan tindakan yang mencerminkan perilaku orang tersebut.
5. Konsepsi Diri
Konsepsi diri adalah proses totalitas, baik sadar maupun tidak sadar tentang bagaimana karakter dan diri seseorang terbentuk. Jadi, konsepsi diri adalah bagaimana kita harus membangun diri, apa yang kita inginkan dan bagaimana kita menempatkan diri dalam kehidupan.
Empat jenis tipe karakter adalah:
1. Sanguinis
Orang dengan karakter sanguinis ini biasanya selalu optimis, riang, antusias dan memiliki semangat hidup yang tinggi. Selalu menarik perhatian atau butuh orang-orang yang memperhatikannya. Mereka juga gemar mengambil risiko, maka jangan heran jika karakter sanguinis ini menjadi orang-orang yang suka sekali melakukan petualangan karena tipe ini juga suka mencari kesenangan. Saking sukanya dengan tantangan dan hal-hal baru, mereka jadi mudah bosan. Kekuatandari si sanguinis adalah suka bicara, antusias, ekspresif, emosional dan demonstratif, ceria, penuh rasa ingin tahu, hidup di masa sekarang, dan lain sebagainya. Sedangkan kelemahan dari si sanguinis adalah membesarkan suatu hal atau kejadian, susah untuk diam, mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan ataupun orang lain, dan lain sebagainya.
2. Plegmatis
Orang tipe plegmatis lebih fokus pada apa yang terjadi dalam dirinya, sehingga ia membiarkan apa yang ada di luar terjadi sebagaimana mestinya. Tidak heran orang-orang dengan tipe ini menyukai kedamaian. Kekuatandari plegmatis adalah sabar, santai, tenang, dan pendengar yang baik, tidak banyak bicara, namun cenderung bijaksana, simpatik dan baik hati namun cenderung menyembunyikan emosi, dan lain sebagainya. Kelemahannya adalah kurang antusias terhadap perubahan lingkungan, mudah takut dan khawatir, cenderung menghindari konflik dan tanggung jawab.
3. Koleris
Oang dengan tipe koleris sangat berorientasi pada target, analitis, dan logis. Tipe-tipe seorang pemimpin. Karakter koleris ini juga tidak menyukai basa-basi, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan hal bermanfaat. Kekuatannya adalah senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif, bebas, mandiri dan berkemauan keras untuk mencapai sasaran, berani menghadapi tantangan dan masalah, dan lain sebagainya. Sedangkan kelemahannya adalah tidak sabaran, cepat marah, dan senang memerintah, terlalu bergairah atau susah untuk santai, menyukai kontroversi dan pertengkaran, dan lain sebagainya.
4. Melankolis
Tipe melankolis sering berkorban untuk orang lain, cenderung sensitif, penyayang, senang berada di balik layar, namun juga seorang yang pemikir. Ia diibaratkan harus menjadi penggerak, dan memberi kesempatan pada bagian tubuh lainnya, sehingga ia akan sensitif dan memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah. Ia seorang yang cukup kreatif karena dapat berpikir dari berbagai sudut pandang. Memikirkan bagian tubuh lain, membuatnya melihat dari berbagai sudut pandang. Kekuatandari melankolis adalah analitis, mendalam, serius dan bertujuan, berorientasi pada jadwal, artistik, kreatif, sensitif, mau mengorbankan diri dan idealis, dan lain sebagainya. Sedangkan kelemahannya adalah cenderung melihat masalah dari sisi negative, pendendam, mudah merasa bersalah, murung dan tertekan, ebih menekankan pada cara dibanding tercapainya tujuan, dan lain sebagainya.
Dunia pendidikan adalah sebuah sistem yang komplek dan memiliki banyak unsur yang harus ada didalamnya. Salah satu unsur yang paling penting peserta didik dan juga menjadi subjek utama pendidikan. Secara sederhana peserta didik adalah seorang yang sedang ingin mengetahui sesuatu hal yang baru atau sedang melakukan pelajar.
Peserta didik adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa setiap peserta didik memiliki eksistensi atau kehadiran dalam sebuah lingkungan, seperti halnya sekolah, keluarga, pesantren bahkan dalam lingkungan masyarakat. Dalam proses ini peserta didik akan banyak sekali menerima bantuan yang mungkin tidak disadarinya, sebagai contoh seorang peserta didik mendapatkan buku pelajaran tertentu yang ia beli dari sebuah toko buku. Dapat anda bayangkan betapa banyak hal yang telah dilakukan orang lain dalam proses pembuatan dan pendistribusian buku tersebut, mulai dari pengetikan, penyetakan, hingga penjualan.
Dalam dunia pendidikan Indonesia orang yang melakukan belajar dikenal tiga nama yakni Peserta didik, Siswa dan Murid. Ketiga nama ini memiliki masa penggunaan yang berbeda. Jika kita merujuk pada Undang-undang sistem pendidikan Nasional Indonesia, Peserta didik digunakan sebagai orang yang menempuh jenjang pendidikan tertentu.
Karakteristik peserta didik dapat diartikan secara keseluruhan pola kelakukan atau kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan, sehingga menentukan aktivitasnya dalam mencapai cita-cita atau tujuan. Dengankata lain karakteristik peserta didik adalah latar belakang pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik termasuk aspek-aspek lain yang ada pada diri mereka seperti kemampuan umum, ekspektasi emosional terhadap pembelajaran dan ciri-ciri jasmani serta siswa yang memberikan dampak terhadap keefektifan belajar.
Karakteristik peserta didik meliputi: etnik, kultural, status sosial, minat, perkembangan kognitif, kemampuan awal, gaya belajar, motivasi, perkembangan emosi, perkembangan sosial, perkembangan moral dan spiritual, dan perkembangan motorik.
1. Etnik
Pendidik dalam melakukan proses pembelajaran perlu memperhatikan jenis etnik apa saja yang terdapat dalam kelasnya. Dalam sekolah dan kelas tertentu terdapat multi etnik/suku bangsa, seperti dalam satu kelas kadang-kadang terdiri dari peserta didik etnik Jawa, Sunda, Madura, Minang, dan Bali, maupun etnik lainnya. Data tentang keragaman etnis di kelasnya menjadi informasi yang sangat berharga bagi pendidik dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. Seorang pendidik yang menghadapi peserta didik hanya satu etnik di kelasnya, tentunya tidak sesulit yang multi etnik. Proses pembelajaran dengan peserta didik yang multi etnik maka dalam melakukan interaksi dengan peserta didik di kelas tersebut perlu menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh semua peserta didiknya. ketika guru memberikan contoh-contoh untuk memperjelas materi yang sedang dibahas tentang contoh yang dapat kemudian dipahami oleh semuanya.
2. Budaya
Peserta didik kita sebagai anggota suatu masyarakat memiliki budaya tertentu dan sudah barang tentu menjadi pendukung budaya tersebut. Budayaang ada di masyarakat kita beragam, seperti kesenian, kepercayaan, norma, kebiasaan, dan adat istiadat. Pesertaidik yang kita hadapi mungkin berasal dari berbagai daerah yang tentunya memiliki budaya yang berbeda sehingga kelas yang kita hadapi adalah kelas yang multikultural.
3. Status sosial
Peserta didik pada suatu kelas biasanya berasal dari status sosial-ekonomi yang berbeda-beda. Peserta didik dengan berbagai status ekonomi dan sosialnya menyatu untuk saling berinteraksi dan saling melakukan proses pembelajaran. Perbedaan ini tidak menjadi penghambat dalam melakukan proses pembelajaran.a Namun tidak dapat ditemukan status sosial ekonomi ini menjadi penghambat peserta didik dalam belajar kelompok. Implikasi dengan adanya variasi status-sosial ekonomi ini pelajaran untuk mampu bertindak adil dan tidak diskriminatif.
4. Minat
Minat merupakan suatu sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan yang dipilihnya. Sebenarnya minat belajar peserta didik memegang peran yang sangat penting, sehingga perlu untuk terus berkembang sesuai dengan minat yang dimiliki oleh seorang peserta didik.
5. Perkembangan kognitif
Tingkat perkembangan kognitif yang dimiliki peserta didik akan mempengaruhi guru dalam memilih dan menggunakan pendekatan pembelajaran, metode, media, dan jenis evaluasi.
Berdasarkan teori perkembangan dari Piaget tersebut, dikaitan dengan tahap perkembangan intelektual sebagai berikut:
1) Bahwa perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya setiap manusia akan mengalami urutan tersebut dan dengan urutan yang sama
2) Tahap bahwa-tahapperkembangan didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokkan. pembuatan hipotesis dan penarikan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual
3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan ( equilibration ), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman ( asimilasi ) dan struktur kognitif yang timbul ( Bahwa )
6. Kemampuan awal
Mengetahui keadaan pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki terlebih dahulu oleh peserta didik sebelum mempelajari pengetahuan atau keterampilan baru. Pengetahuandan keterampilan yang harus dimiliki terlebih dahulu adalah pengetahuan atau keterampilan yang lebih rendah dari apa yang akan dipelajari. Kemampuanawal peserta didik bersifat individual, artinya berbeda antara peserta didik dengan lainnya, sehingga untuk mengetahuinya juga harus bersifat individual. Cara untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dapat dilakukan melalui teknik tes yaitu pre tes atau tes awal dan teknik non tes seperti wawancara.
7. Gaya belajar
Yaitu cara yang dipilih/digunakan oleh peserta didik dalam menerima, mengatur, dan memproses informasi atau pesan dari komunikator/pemberi informasi. Gaya belajar dapat dikelompokkan Menjadi Tiga Yaitu visual ( pelajar visual ), auditif (peserta didik pendengaran), Dan kinestetik (pelajar kinestetik). Dengan diketahuinya gaya belajar yang dimiliki pesertadidik, maka akan berimplikasi terhadap model pembelajaran, strategi, metode, dan media pembelajaran yang akan digunakan.
8. Motivasi
Suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Motivasi kadang timbul dari dalam diri individu itu sendiri ( motivasi instrinsik dan kadang motivasi itu muncul karena faktor dari luar dirinya sendiri ( motivasi ekstrinsik ). Seseorang memiliki motivasi tinggi atau tidak dalam belajarnya dapat terlihat dari tiga hal :
1) kualitas keterlibatannya,
2) perasaan dan keterlibatan afektif peserta didik,
3) upaya peserta didik untuk memelihara/menjaga motivasi yang dimiliki.
9. Perkembangan emosi
Emosi sebagai tergugahnya perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh, otot menegang, dan jantung berdebar. Dengan emosi peserta didik dapat merasakan senang/gembira, aman, semangat, bahkan sebaliknya peserta didik merasakan sedih, takut, dan sejenisnya.
Suasana emosi yang positif atau menyenangkan atau tidak menyenangkan membawa pengaruh pada cara kerja struktur otak manusia dan akan berpengaruh pula pada proses dan hasil belajar. Oleh karena itu pendidik dalam melakukan proses pembelajaran perlu menghadirkan suasana emosi yang senang/gembira dan tidak memberi rasa takut pada peserta didik.
10. Perkembangan sosial
Adalah kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya, bagaimana anak tersebut memahami lingkungan dan pengaruhnya dalam berperilaku baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Perkembangan sosial peserta didik dapat diketahui/dilihat dari tingkat kemampuannya dalam berinteraksi dengan orang lain dan menjadi masyarakat di lingkungannya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan sebaya yaitu keluarga, kematangan, teman, sekolah, dan status sosial ekonomi.
11. Perkembangan moral dan spiritual
Moralitas dalam diri peserta didik dapat tingkat yang paling rendah menuju ke tingkat yang lebih tinggi seiring dengan kedewasaannya.
Menurut Kohlberg perkembangan moral anak/peserta didik dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu :
1) prakonvensional (6 – 10 th)
Meliputi aspek kepatuhan dan orientasi hukuman, orientasi anak/peserta didik masih pada konsekvensi fisik dari perbuatan yang benar-salahnya yaitu hukuman dan kepatuhan atau penilaian anak baik – buruk berdasarkan akibat perbuatan; dana aspek orientasi egoistik naif ; orientasi anak/peserta didik pada instrumen relatif.
2) Konvensional (10 – 17 th)
Meliputi aspek good boy orientation , orientasi perbuatan yang baik adalah yang menyenangkan, membantu, atau disepakati oleh orang lain.
3) pascakonvensional (17 – 28)
Tahap pasca konvensional ini meliputi orientasi legalistik kontraktual , orientasi orang pada legalitas kontrak sosial.
12. Perkembangan motorik.
Menurut Hurlock Perkembangan motorik adalah perkembangan gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkordinasi.
Perkembangan motorik merupakan proses yang sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap dan terus-menerus, dimana gerakan meningkat dari keadaan sederhana, tidak terorganisir, dan tidak terampil, menguasai keterampilan yang kompleks dan terorganisir dengan baik. Perkembangan motorik dikelompokkkan menjadi motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar ; gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot atau besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh sebagian besar anak itu sendiri. Sedangkan motorik halus : gerakan yang menggunakan otot halus, atau sebagian anggota tubuh tertentu yang ditentukan oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih.
Komentar
Posting Komentar